Langsung ke konten
Perilaku2026-10-27 · 4 mnt

Sabotase diri: mengapa orang menghalangi langkahnya sendiri, dan apa kata riset

Belajar terlalu mepet, berhenti tepat sebelum garis akhir, pergi sebelum ada yang sempat menolak. Apa kata riset self-handicapping tentang sabotase diri.

Mulai tes — Tes sabotase diri · 12 pertanyaan, ~4 mnt

Malam sebelum ujian penting, seorang mahasiswa pergi bersama teman-temannya sampai larut. Keesokan harinya hasilnya kurang bagus, dan penjelasannya sudah siap: “Aku kelelahan.” Kalau hasilnya bagus, itu akan terlihat seperti bakat. Apa pun hasilnya, ia tidak pernah harus tahu apa yang bisa dicapai dengan usaha penuh.

Psikolog menyebut ini self-handicapping: menciptakan hambatan bagi kinerjamu sendiri, supaya kegagalan bisa disalahkan pada hambatan itu, bukan pada kemampuanmu. Sabotase diri adalah istilah sehari-hari untuk kumpulan kebiasaan serupa yang lebih luas.

Eksperimen obat

Pada 1978 Edward Jones dan Steven Berglas mendeskripsikan self-handicapping dan mengujinya dalam sebuah eksperimen. Para mahasiswa mengerjakan serangkaian soal, dan semuanya diberi tahu bahwa hasil mereka bagus. Bagi sebagian, soal-soal itu bisa dipecahkan. Bagi yang lain, sebagian besar soal tidak bisa dipecahkan, sehingga pujian itu terasa tidak layak diterima. Sebelum putaran kedua, setiap mahasiswa boleh memilih antara obat yang katanya meningkatkan kinerja dan obat yang katanya menurunkannya.

Mahasiswa yang merasa keberhasilan awalnya tidak layak lebih sering memilih obat yang menurunkan kinerja. Mereka tidak yakin bisa mengulang hasil itu, jadi mereka menyiapkan alasan lebih dulu.

Harga yang dibayar seiring waktu

Alasan itu melindungi citra dirimu sesaat, tetapi juga membuat kegagalan lebih mungkin terjadi. Pada 1998 Miron Zuckerman, Suzanne Kieffer, dan Raymond Knee mengikuti sejumlah mahasiswa dari waktu ke waktu. Mereka yang lebih sering melakukan self-handicapping kemudian mendapat nilai lebih rendah dan merasa lebih buruk, dan hasil itu pada gilirannya berjalan seiring dengan self-handicapping yang lebih sering. Kebiasaan itu memberi makan dirinya sendiri.

Apa yang ditanyakan tes kami

Tes sabotase diri kami berisi 12 pernyataan yang kami tulis sendiri, berdasarkan gagasan self-handicapping dari Jones dan Berglas. Ini alat refleksi diri, bukan kuesioner tervalidasi, dan hasilnya satu skor keseluruhan. Kamu menjawab pada skala lima poin dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju, dan setiap pernyataan dinilai dengan cara yang sama, jadi skor yang lebih tinggi berarti lebih banyak sabotase diri.

Sebagian pernyataan menggambarkan self-handicapping klasik, misalnya “Saya menunda persiapan untuk hal-hal penting sampai tidak mungkin lagi dikerjakan dengan baik.” Sebagian lain lebih luas. Satu pernyataan tentang berhenti menjelang akhir: “Saya memulai banyak hal, tetapi meninggalkannya tepat sebelum selesai.” Satu tentang pergi sebelum ditolak: “Saya meninggalkan kesempatan (pekerjaan, hubungan, proyek) sebelum ada yang sempat menolak saya.” Dan satu melihat polanya secara keseluruhan: “Kalau melihat ke belakang, saya melihat pola yang berulang: sayalah yang menghalangi langkah saya sendiri.”

Memanfaatkan hasilmu

Skor tinggi menggambarkan sebuah kebiasaan, dan sebagian besar sabotase diri melindungi sesuatu, biasanya harga diri atau ketakutan dinilai. Pertanyaan yang berguna: hambatan itu melindungimu dari apa? Kalau jawabannya “dari kenyataan bahwa aku tidak cukup baik”, pola itu mungkin lebih dekat dengan perasaan impostor atau perfeksionisme daripada kemalasan.

Beberapa langkah praktis bisa membantu. Tetapkan tenggat kecil yang lebih awal, yang hanya kamu ketahui. Perhatikan saat kamu meraih alasan itu, begadang atau scroll tanpa henti, lalu beri nama. Dan saat sesuatu berjalan baik, tuliskan apa yang kamu lakukan sehingga itu terjadi, supaya keberhasilan itu punya alasan yang bisa kamu ulangi.

Kalau menunda-nunda adalah pola utamamu, baca mengapa kita menunda dan cara menghentikannya. Kalau suara yang bilang kamu tidak pantas sukses terdengar akrab, tes sindrom impostor adalah langkah berikutnya yang baik.

Bagikan hasil

Ikuti tesnya gratis

Hasil langsung. Tanpa daftar. Metodologi ilmiah yang tepercaya.

Mulai tes →