Keterampilan sosial: mengekspresikan, membaca, dan menyesuaikan diri dalam percakapan
Keterampilan sosial terdiri dari beberapa kemampuan, bukan satu. Apa kata model Ronald Riggio, empat keterampilan mana yang dicakup tes 16 pernyataan kami, dan mengapa menilai diri sendiri ada batasnya.
Ada orang yang masuk ke ruangan penuh orang asing dan dalam beberapa menit sudah mengobrol dengan tiga di antaranya, tetapi tidak menyadari bahwa salah satunya ingin pergi. Ada juga yang hampir tidak bicara tetapi menangkap setiap perubahan suasana hati di sekitar meja. Keduanya terampil secara sosial, dengan cara yang berbeda.
Pada 1986 psikolog Ronald Riggio menggambarkan keterampilan sosial sebagai sekumpulan kemampuan yang terpisah dan menerbitkan Social Skills Inventory untuk mengukurnya. Modelnya menyilangkan tiga kemampuan (mengekspresikan, membaca, dan mengendalikan) dengan dua saluran: saluran emosional, yang sebagian besar nonverbal, dan saluran sosial, yang sebagian besar verbal. Hasilnya enam keterampilan.
Apa yang diukur tes kami
Tes keterampilan sosial kami mencakup empat dari enam keterampilan Riggio. Kami menulis sendiri 16 pernyataannya berdasarkan modelnya, jadi tes ini adalah alat refleksi diri, bukan kuesioner tervalidasi miliknya. Setiap keterampilan mendapat empat pernyataan, dan kamu menilai masing-masing pada skala lima poin dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
- Ekspresivitas emosi: seberapa jelas perasaanmu terlihat, misalnya “Emosi saya mudah terlihat di wajah saya”.
- Kepekaan emosional: seberapa baik kamu menangkap perasaan orang lain, misalnya “Saya cepat menyadari saat seseorang sedih atau kesal, meski dia tidak mengatakannya”.
- Ekspresivitas sosial: seberapa mudah kamu memulai dan menjaga percakapan, misalnya “Saya mudah memulai percakapan dengan orang yang tidak saya kenal”.
- Kontrol sosial: seberapa baik kamu menyesuaikan diri dengan orang dan peran yang berbeda, misalnya “Saya bisa menyesuaikan gaya komunikasi saya dengan orang dan konteks sosial yang berbeda”.
Satu pernyataan di setiap keterampilan dirumuskan sebaliknya, misalnya tentang sering tidak tahu harus bilang apa dalam situasi sosial, dan dinilai terbalik. Dua bagian model Riggio tidak ada dalam versi kami: kontrol emosional (mengatur seberapa banyak perasaanmu terlihat) dan kepekaan sosial (membaca aturan sosial dan cara orang lain menilaimu).
Keseimbangan lebih penting daripada satu skor tinggi
Riggio memperlakukan keterampilan-keterampilan ini sebagai keterampilan yang bekerja bersama. Dalam modelnya, ekspresivitas yang kuat dengan kontrol yang lemah bisa membuat seseorang tampak impulsif atau berlebihan, sedangkan kontrol yang kuat dengan sedikit ekspresivitas bisa membuatnya tampak dingin atau sulit dibaca. Jadi lihat bentuk keempat skormu, bukan hanya skor tertinggi.
Orang lain membacamu dengan cepat
Pada 1993 Nalini Ambady dan Robert Rosenthal memperlihatkan potongan video bisu pendek tentang para guru kepada sejumlah orang, sebagian hanya beberapa detik. Penilaian yang dibuat dari potongan video ini memprediksi evaluasi yang diterima para guru itu dari murid-murid mereka sendiri di akhir semester. Gerak tubuh, ekspresi wajah, dan postur membawa banyak hal yang disimpulkan orang tentang dirimu, sering kali sebelum kamu mengucapkan sepatah kata. Itulah yang diukur oleh skor ekspresivitas emosi.
Batas menilai diri sendiri
Menilai kepekaanmu sendiri itu rumit, karena momen saat kamu salah membaca seseorang justru momen yang tidak kamu sadari. Dalam tinjauan tahun 2009, Judith Hall, Susan Andrzejewski, dan Jennelle Yopchick menemukan bahwa seberapa pandai orang menganggap dirinya dalam membaca orang lain hanya berkaitan lemah dengan hasil mereka pada tes keterampilan itu. Anggap skor kepekaan emosionalmu sebagai gambaran caramu memandang dirimu sendiri. Ada gunanya meminta orang yang mengenalmu dengan baik untuk menilai empat pernyataan yang sama tentang dirimu, lalu membandingkannya.
Karena ini keterampilan, semuanya bisa dilatih. Kalau memulai percakapan adalah titik lemahmu, obrolan singkat yang tidak berisiko (pertanyaan kepada rekan kerja, komentar kepada tetangga) membangun kelancaran. Kalau membaca orang lain adalah titik lemahnya, pertanyaan sederhana seperti “Bagaimana menurutmu sejauh ini?” memberimu jawaban yang tidak perlu kamu tebak lagi.
Kalau percakapan terasa sulit lebih karena rasa takut daripada kurang latihan, tes kecemasan sosial (Mini-SPIN) menanyakan hal itu secara langsung. Untuk mendalami cara membaca perasaan orang lain, coba tes empati atau baca apa itu kecerdasan emosional.
Mungkin kamu juga suka
Kecanduan media sosial: 6 tanda bahwa scrolling sudah menguasai
6 mnt · 2026-07-11
Mengapa rencana harianmu berantakan, dan apa kata riset manajemen waktu
5 mnt · 2026-07-14
Keterampilan yang dapat ditransfer: cara menamai apa yang kamu bawa ke pekerjaan berikutnya
5 mnt · 2026-10-27