Metakognisi: seberapa baik kamu mengenal cara berpikirmu sendiri?
Metakognisi adalah kemampuan menyadari caramu berpikir, belajar, dan membuat kesalahan. Tiga bagiannya, mengapa membaca ulang catatan terasa lebih ampuh daripada kenyataannya, dan apa yang ditanyakan tes metakognisi kami.
Kamu membaca satu bab dua kali, isinya terasa akrab, dan kamu yakin sudah menguasainya. Lalu soal ujian menanyakan sesuatu dari bab itu dan pikiranmu mendadak kosong. Yang gagal adalah penilaianmu terhadap ingatanmu sendiri.
Penilaian itulah yang oleh psikolog disebut metakognisi: berpikir tentang cara berpikirmu sendiri. Psikolog perkembangan John Flavell menggambarkannya dalam sebuah makalah tahun 1979, setelah bertahun-tahun meneliti bagaimana anak-anak belajar membedakan kapan mereka sudah benar-benar hafal dan kapan mereka hanya mengira sudah hafal.
Tiga bagian metakognisi
Tes metakognisi kami membaginya menjadi tiga bagian, masing-masing dengan empat pernyataan.
Pengetahuan metakognitif adalah apa yang kamu ketahui tentang dirimu sebagai pemikir: cara belajar mana yang cocok untukmu, apa yang mudah kamu ingat, dan apa yang gampang terlupa. Contoh pernyataan: “Saya tahu strategi belajar mana yang paling cocok untuk saya.”
Regulasi metakognitif adalah apa yang kamu lakukan dengan pengetahuan itu saat bekerja: merencanakan sebelum mengerjakan tugas yang rumit, memeriksa pemahamanmu sambil jalan, mengganti strategi saat ada yang tidak berhasil, dan meninjau hasilnya di akhir.
Pengalaman metakognitif adalah kumpulan perasaan yang menyertai proses berpikir: rasa bahwa kamu sudah memahami sesuatu, sinyal mengganjal bahwa ada yang tidak masuk akal, kesadaran bahwa kamu terlalu lelah untuk berpikir dengan baik.
Flavell menulis tentang pengetahuan dan pengalaman. Peneliti sesudahnya, termasuk Gregory Schraw dan Rayne Dennison dalam inventaris mereka tahun 1994, menambahkan regulasi sebagai bagian tersendiri. Kami menulis sendiri 12 pernyataan ini berdasarkan pembagian tiga bagian tersebut. Tes ini adalah alat refleksi diri, bukan skala yang tervalidasi.
Ilusi merasa tahu
Merasa tahu sesuatu dan benar-benar tahu adalah dua hal yang berbeda, dan di celah antara keduanya metakognisi paling berperan.
Pada 2013 John Dunlosky dan rekan-rekannya meninjau sepuluh teknik belajar yang populer. Membaca ulang dan menandai teks dengan stabilo, dua teknik yang paling umum, dinilai berkegunaan rendah. Latihan menguji diri (mencoba mengingat materi tanpa melihat) dan menyebar waktu belajar ke beberapa sesi dinilai berkegunaan tinggi. Membaca ulang terasa produktif karena teksnya menjadi akrab. Mengingat kembali terasa lebih sulit, dan kesulitan itulah yang memberitahumu seberapa banyak yang benar-benar kamu ketahui.
Orang dengan regulasi metakognitif yang baik tidak begitu saja memercayai rasa akrab. Mereka menutup buku dan mencoba menjelaskan gagasannya dengan kata-kata sendiri, lalu menganggap pikiran yang kosong sebagai informasi yang berguna, bukan kegagalan.
Cara membaca skormu
Skor pengetahuan yang tinggi dengan skor regulasi yang rendah cukup umum. Kamu tahu apa yang cocok untukmu, tetapi tidak melakukannya saat dikejar waktu. Dalam kasus ini, kebiasaan kecil yang tetap lebih membantu daripada menambah pengenalan diri: rencana dua menit sebelum mulai, satu kali pemeriksaan di tengah jalan.
Skor pengalaman yang rendah bisa berarti kamu jarang menyadari sinyal peringatan, seperti rasa lelah atau perasaan bahwa sebuah argumen tidak sepenuhnya masuk akal. Coba berhenti sejenak di titik-titik tertentu dan bertanya: “Bisakah aku menjelaskan ini kepada orang lain sekarang juga?”
Ingat bahwa tes ini sendiri berupa laporan diri, jadi yang diukurnya adalah caramu memandang proses berpikirmu. Orang yang melebih-lebihkan pemahamannya mungkin juga melebih-lebihkan metakognisinya. Menguji diri dengan materi yang nyata adalah pemeriksaan yang jujur.
Bacaan terkait
Metakognisi tidak sama dengan kecerdasan. Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang kemampuan penalaran, coba tes IQ atau baca apa yang sebenarnya diukur tes IQ online. Dan kalau kamu suka menunda memulai tugas, perencanaan hanyalah sebagian dari ceritanya: baca mengapa kita menunda dan cara menghentikannya.